Etnomatematika merupakan mata kuliah wajib bagi mahasiswa prodi pendidikan matematika. Saya mengambil mata kuliah ini pada semester VI dengan diampu oleh bapak Prof. Marsigit, MA. Beliau merupakan guru besar yang selalu semangat dalam memotivasi para mahasiswa pendidikan matematika agar kelak ketika menjadi guru dapat mengembangkan pembelajaran menjadi pembelajaran yang inovatif, Karena siswa bukanlah patung, namun siswa adalah subjek pendidikan. Sehingga perlu dihadirkan inovasi agar pembelajaran matematika menjadi lebih menyenangkan bgi siswa. Salah satu pembelajaran yang Beliau hadirkan adalah pembelajaran matematika berbasis budaya atau bisa disebut dengan Etnomatematika. Menurut Shirley (Marsigit, 2016) etnomatematika merupakan matematika yang ada dalam masyarakat dan kedudayaannya (artefak, lagu, tarian, dst) yang dapat digunakan dalam proses pembelajaran. Prof Marsigit juga aktif dalam menulis. Tulisan-tulisan Beliau juga aktif dibagikan melalui blog (https://powermathematics.blogspot.co.id/

), tulisan Beliau sangat menginspirasi terutama bagi siapa saja yang ingin mengembangkan pembelajaran matematika yang inovatif.

Pada awal perkuliahan, Prof Marsigit telah menjelaskan beberapa tagihan dari perkuliahan ini, salah satunya kami diminta untuk obserbasi tempat-tempat budaya dan kemudian mengembangkan perangkat pembelajaran berbasis etno. Terdapat 3 pilihan tempat budaya, yaitu : Candi Borobudur, Candi Prambanan, serta Keraton Yogyakarta. Dari total 31 mahasiswa dibagi menjadi 3 kelompok. Tiap kelompok observasi ke salah satu tempat budaya. Kebetulan kelompok saya mendapat kesempatan observasi ke Candi Borobudur. Sebelum observasi, kami membagi setiap kelompok dengan materi dan kelas yang berbeda. Kebetulan, Candi Borobudur mendapat jatah materi kelas VIII SMP.

Kunjungan observasi ke Candi Borobudur dilakukan pada 24 Maret 2018. Saya berkeliling Candi Borobudur mencari objek yang dapat digunakan untuk pembelajaran matematika. Saya menemukan beberapa objek yang dapat digunakan untuk pembelajaran matematika. Namun, objek yang menarik untuk saya gunakan untuk pembelajaran matematika adalah objek relief yang berbentuk lingkaran.

Terdapat banyak sekali objek relief berbentuk lingkaran satu objek lingkaran seperti beberaoa gambar di atas. Namun objek lingkaran yang menarik untuk saya gunakan dalam pembelajaran matematika adalah objek roda kereta kuda pada relief Candi Borobudur.

Apabila diperhatikan, roda kereta kuda pada relief tersebut terbagi menjadi 8 juring yang sama besar.

Objek tersebut akan digunakan untuk menemukan rumus lingkaran melalui juring-juring lingkaran.

Dengan menggunakan pendekatan Discovery Learning, pembelajaran untuk menemukan luas lingkaran menjadi seperti pada gambar berikut :

Diharapkan, melalui pembelajaran berbasis etno ini, siswa menjadi paham betul akan makna dari rumus luas lingkaran.

Indonesia merupakan negara yang sangat kaya akan budaya. Berbagai macam budaya tersebar dari Sabang sampai Marauke. Salah satu budaya Indonesia adalah kesenian ketoprak. Kesenian ketoprak merupakan seni pentas drama tradisional yang berasal dari Jawa Tegah dan sekitarnya. Kesenian ini patut untuk dilestarikan, mengingat derasnya arus globalisasi kesenian ini semakin jarang ditemui. Ssalah satu cara melestarikannya adalah dengan diadakannya pentas kesenian Ketoprak.

Seperti yang diadakan oleh Universitas Negeri Yogyakarta pada tanggal 9 Mei 2018. Dalam rangka memperingati Dies Natalis Universitas Negeri Yogyakarta yang ke- 54, diadakan pentas kesenian ketoprak dengan judul “Rembulan Kekalang” yang bertempat di Auditorium Universitas Negeri Yogyakarta.

“Rembulan Kekalang” menceritakan tentang keserakahan Tumenggung Pasingsingan akan derajat dan martabat. Tumenggung Pasingsingan memiliki dendam kepada Kerajaan Mataram karena ia tidak terpilih menjadi Raja Mataram yang baru, yaitu Pangeran Hadi Mataram. Demi membalaskan dendamnya, Tumenggung Pasingsingan merelakan puterinya yang bernama Rara Mangli yang dijadikan ‘rantai emas’ untuk memikat Pangeran Timur (yang merupakan saudara dari Pangeran Hadi Mataram), kemudian Rara Mangli dan Pangeran Timur pun menikah. Setelah menikah, Pangeran Timur termakan hasutan mertuanya, Pangeran Timur menjadi lupa dengan Mataram, bahkan Pangeran Timur menyetujui kehendak mertuanya untuk membunuh Pangeran Hadi Mataram yang tak lain adalah saudaranya sendiri. Pikir Tumenggung Pasingsingan, jika Pangeran Hadi terbunuh, maka menantunyalah yang akan menjadi penguasa Mataram. Tumenggung Pasingsingan pun menyusun rencana pembunuhan Pangeran Hadi Mataram. Namun, rencana itu gagal. Tumenggung Pasingsingan kalah dengan kelicikannya.

Ketoprak ‘Rembulan Pasingsingan’ berisi banyak sekali pesan moral yang dapat diteladani. Beberapa diantaranya adalah : Pertama, janganlah berambisi akan suatu hal sehingga menghalalkan segala cara untuk meraihnya. Karena rakus akan derajat dan martabat, Tumenggung Pasingsingan menjadi buta membedakan mana yang benar mana yang salah, sehingga menempuh cara yang licik untuk memperoleh kekuasaan. Kedua, janganlah mudah terhasut oleh hal-hal yang buruk seperti halnya Pangeran Timur yang termakan hasutan Tumenggung Pasingsingan dan Rara Mangli. Kita harus berpegang teguh pada prinsip agar tidak terbawa arus hal-hal yang negatif. Ketiga, dari kisah tersebut kita tau bahwa apapun yang sedari awal sudah diniati dengan niat yang tidak baik pastilah akan kalah melawan kebaikan, “Segala amal tergantung pada niatnya” baik buruknya suatu hal diliat pada niatnya. Dan terakhir, janganlah menyimpan dendam, sesungguhnya dendam merupakan penyakit hati yang akan mengantarkan seseorang berlaku keji.

math

sumber gambar : hialeahgardensmiddle.org

Minggu, 20 September 2015

Hari ini, Saya dan teman-teman mahasiswa baru lainnya mengikuti pelatihan ICT 2015.  Pada pelatihan ICT 2015, kami mendapat banyak pengetahuan baru.  Pada pukul 7.30 kami memulai sesi teori di Ruang Seminar FMIPA. Kami diberikan materi mengenai siakad, hal-hal yang berhubungan dengan kapasitas internet di UNY, perpustakaan, dan masih banyak lagi. Ada 3 pemateri pada pagi hari ini, yaitu Pak Supardi (FIS), Pak Priyanto (Kepala Puskom UNY), dan PAk Taufan (Perpustakaan).

Setelah selesai sesi teori, pukul 10.00 kami segera menuju Laboraturium Komputer untuk mengikuti sesi praktek yang dipandu oleh Pak Ilham Rizkianto. Pada sesi praktek, kami mempraktekan apa yang telah dibahas di sesi teori tadi. Banyak hal-hal yang baru dan menarik yang kami dapatkan, kami mempelajari bagaimana cara mengirimkan tugas menggunakan besmart, cara mengakses katalog di perpustakaan UNY, cara mengikuti ujian online, dan masih banyak lagi. Kami juga dikenalkan dengan website yang sangat menarik, yaitu wolframalpha.com dan brilliant.org.